Engkau begitu mempesonaku
Pesonamu membanjiri seluruh relung jiwaku
Engkau gadis yang penuh energi
Kau begitu sempurna
Sedang aku,
hanyalah lekaki naif
dengan segudang masalah
tumpukan beban masa lalu membuatku lamban
pemalas bagai lembu kekenyangan
seakan hidup tanpa arah dan gairah
Aku sadar
aku sering membuat sebal
sering membuatmu marah
kebengongan seakan tak mempedulikanmu
Ya ..
Aku tahu
Aku jauh dari harapanmu
Tapi sayang
Aku mencintaimu

Seperti biasa bulan Ramadlan ini jadwal saya penuh. Hal ini karena banyaknya acara mulai buka bersama sampai tarawih bersama. Bersama siapa. Ya bersama Himpunan Anu, Paguyuban Pengusaha Langit, Paguyupan Pejabat Kota, Paguyuban Arisan Glamor Ria, Partai Jaya Rakyat Sengsara, Dewan Perwakilan Sok meRakyat Daerah dan seterusnya. Padahal saya ini hanyalah apa? Da’i bukan, ulama juga bukan. Juga tidak tergolong salah satu dari kyai langitan, atapun kyai lautan, kyai daratan. Saya cuma seorang yang mudah2an tidak lupa daratan.
Yah akhirnya saya go-Blog deh. Keren? Ah siapa bilang. Bisa saja berakhir dengan goblok. Lho bukannya sekarang saya ini emang sudah ditakdirkan goblok. Apa sih ukurannya goblok. Apa ada sih skala yang menentukan derajat ke-goblok-an itu. Terus adakah lembaga yang mengeluarkan semacam test untuk mengukur derajat kegoblokan ini. Ah jangan-jangan betul kata orang, kalo goblok sesuatu yang itu absolut. Apalagi untuk orang seperti saya. 