Seperti biasa bulan Ramadlan ini jadwal saya penuh. Hal ini karena banyaknya acara mulai buka bersama sampai tarawih bersama. Bersama siapa. Ya bersama Himpunan Anu, Paguyuban Pengusaha Langit, Paguyupan Pejabat Kota, Paguyuban Arisan Glamor Ria, Partai Jaya Rakyat Sengsara, Dewan Perwakilan Sok meRakyat Daerah dan seterusnya. Padahal saya ini hanyalah apa? Da’i bukan, ulama juga bukan. Juga tidak tergolong salah satu dari kyai langitan, atapun kyai lautan, kyai daratan. Saya cuma seorang yang mudah2an tidak lupa daratan.
Tak terbantahkan bulan ini adalah bulan penuh berkah. Buktinya, banyak undangan berarti amplop semakin mengisi kantong saya. Sayapun bisa tersenyum ditengah kesulitan orang-orang dengan naik-nya harga karena melangitnya BBM.
Dibulan yang penuh rahmat ini, kita dianjurkan untuk banyak bersedekah. Puasa juga dimaksudkan untuk menjiwai peran sebagai orang yang jadwal makannya senin kemis. Tapi apa yang kita lihat. Sejak awal puasa, kita telah disibukkan dengan daftar belanja yang selama ramadan. Setiap buka puasa, meja makan jadi penuh, dengan segala variasi makanan dan minuman. Tak jarang makanan tersebut jarang dikonsumsi diluar bulan Ramadlan. Pokoknya super lengkap deh.
Tak heran, kalo para pengamat dan politikus pada teriak-teriak ketika pemerintah mau menaikkan harga BBM beberapa hari sebelum Ramadlan. “Tunda kenaikan sampai selesai Ramadlan”. Itulah yang sering kita dengar. Saya sama sekali buat dengan hitungan BBM. Tapi, la kok, ramadlan dijadikan alasan. Bukankah di bulan ramadlan dianjurkan banyak
bersedekah setelah siangnya ikut merasakan bagaimana lapar dan dahaganya kamu yang kurang beruntung. Tapi apa lacur, setiap bulan ramadlan anggaran belanja justru bertambah drastis.
Tidak hanya itu. Berbuka puasa juga tidak cukup dilakukan dirumah. Berbagai kelompok ato paguyuban juga mengadakan buka bersama, yang sudah tentu maksudnya tidak buka di rumah masing-masing secara bersamaan. Hotel berbintang dengan menu yang wah menjadi pilihan. Para wartawan dari berbagai jenis media pun diundang untuk meliput. Makan dipenuhi dengan penuh keceriaan, sementara para duafa masih berkeliaran dilampu merah dan ditempat-tempat kumuh mengais rejeki demi sesuap buka puasa.
Para pejabat dan tokoh politik pun tak ketinggalan. Buka bersama. Deal-deal politik pun kadang muncul setelah buka puasa bersama tersebut. Begitu juga dengan deal-deal proyek tentunya. Inikah yang namanya bulan penuh berkah itu?
Saya tak tahu. Yang penting bagi saya, bulan ini banyak undangan. Ikut makanan menu buka puasa dari level sedang sampai super mewah. Dan tentunya yang paling penting, amplop saya bertambah. Ini bukan ongkos berceramah, saya tidak me-retail-kan agama kok. Ah ini kan cuma ongkos pengganti transport (padahal seringkali saya diantar-jemput)
Selamat berpuasa. Semoga mendapatkan berkah dan ampunan.
Oktober 23, 2005 pukul 4:34 pm
kapan menjamu saya berbuka?