Bencana membawa berkah!

Berbagai bencana terjadi di negeri kita dua tahun terakhir ini. Mulai dari Tsunami, Gempa, sampai bencana LUSI (lumpur sidoarjo).

Namun bencana selalu saja ada sisi berkahya, namun sayangnya berkah tersebut sedikit yang dinikmati oleh para korban bencana. Pada bencana gempa, berbagai organisasi datang menyumbang, lengkap dengan atribut spanduk, topi, baju dan serombongan team public relation. Ujung-ujungya.. yah.. promosi. Kenapa pake spanduk segala untuk menunjukkan mereka telah menyumbang dan berpartisipasi. Spanduknya ngotor-ngotorin aja.

Lalu, kejadian LUSI, yang sampai saat post ini ditulis belum teratasi. Semua pada sibuk tuding menuding, menyalahkan. Seret ke meja hijau! Begitu kata pengamat. Sek-sek-sek.. kalau yang bertanggung jawab diseret duluan, la yang ngurusin si korban siapa?

Para ilmuan datang, menganalisa lumpur dan pemanfaatannya. Jumpa pers, dan berseminar di hotel mewah. “Lumpur sidoarjo bisa untuk pembuatan beton”. Si ahli masuk koran, TV , dan jadi terkenal. Sementara korban ‘kelelaran’ di pasar porong. Hidup menjadi tak teratur. Kerjaan hilang. Lingkungan bermain pun hilang. Menunggu dan menunggu, sampai kapan?
Berbagai peneliti datang melihat lumpur, mengamati, pulangnya mereka menuju ke komputer, buka literatur sana-sini, ketik, jadilah proposal. Lumayan ada dana penelitian. Kalau sukses, bisa dapat Nobel. Korban lumpur, masih tetap keleleran bak ikan pindang di pasar baru Porong.

Jangan dibuang ke laut! Begitu teriak LSM dan pengamat lingkungan. Sementara lumpur belum dapat dihentikan. Saya yakin berbagai ahli telah didatangkan, tapi rupanya kekuasaan Tuhan lebih besar. Tanggul terus ditinggikan, tapi sampai seberapa tinggi. Desa demi desa telah diluberi lumpur. Rupanya nilai 2000 KK lebih penduduk desa yang terusir gara-gara lumpur jauh lebih rendah dari pada nilai plankton didasar laut sana.

So, please deh, sumbang pikiran, jangan menghujat dulu, kasihan korban. Saya ga membela Lapindo atau pemerintah. Tapi stop dulu menyalahkan. Ibarat ada kecelakaan lalu lintas, si korban sekarat, masak si polisi sibuk ngurusi kelengkapan surat-surat kendaraannya dan mencari pasal mana yang dilanggar.

Bencana adalah ujian dari Tuhan, sebarapa tahan kita menghadapinya. Apakah kita bersatu padu menghadapi bencana, instrospeksi, atau malah cakar-cakaran, tonjok-tonjokan yang malah menimbulkan bencana lainnya?

Kedepan, mudah-mudahan kita semua, pemerintah, pengamat, dan semuanya, belajar dari kejadian ini. Entah itu perubahan dalam ijin explorasi atau peraturan kesehatan dan keselamatan kerja dan lingkungan (OHSE). Jangan seperti asap kebakaran hutan itu, tiap tahun terjadi, tapi tidak pernah ada perubahan ataupun upaya mencegah supaya tidak terjadi di tahun-tahun berikutnya.

Dari jauh saya hanya bisa berdo’a, semoga bencana cepat teratasi, dan kita dijauhkan dari bencana dimasa datang.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadlan.

Ditulis dalam Iseng. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan